Nengnongnengdee’s Weblog


materi TA 2
April 1, 2008, 4:08 am
Filed under: Uncategorized

PRODUKSI SIARARAN TELEVISI
Keberhasilan Sebuah Organisasi Pelaksanaan Produksi.
Oleh : Yoki Yusanto

Televisi sebuah Industri. Lebih jelasnya, di Indonesia ada 10 stasiun televisi swasta nasional dan ratusan stasiun televisi lokal. Dibutuhkan kreator di dunia kreaivitas televisi yang begitu banyaknya. Tidak ada batasan antara televisi lokal, nasional bahkan televisi asing (televisi kabel).
Kerja kreativitas dalam memproduksi sebuah acara dikerjakan oleh sebuah tim, bukan individu. Dibutuhkan sumber daya manusia yang mumpuni dalam memproduksi sebuah acara. Baik dalam memproduksi berita maupun jenis acara hiburan. Berita sudah tidak bisa dipungkuri, bakal diproduksi oleh setiap stasiun televisi. Eksistensi sebuah stasiun televisi di Indonesia bertolak pada sebuah sajian berita televisi.
Sedangkan kegiatan produksi untuk menghasilkan karya artistik yang pendekatannya menghibur, diproduksi untuk tujuan bisnis semata. Di mana pendapatan materi dari iklan tujuan dari sebuah program acara televisi. Acara yang diminati penonton akan banyak mendapatkan iklan. Secara otomatis keuntungan material bagi stasiun televisi.
Tim News atau divisi pemberitaan mengutamakan aktualitas yang tinggi dan kecermatan. Penonton butuh berita yang aktual, faktual dan dapat dipercaya. Para jurnalis televisi beradu cepat dalam menghasilkan berita, bersaing satu tim peliputan berita stasiun televisi lain. Dalam peliputan berita dibutuhkan tim redaksi yang menjungjung tinggi integritas sebuah informasi.
Menurut Naratama, Format acara Televisi adalah sebuah perencanaan dasar dari suatu konsep acara televisi yang akan menjadi landasan kreativitas dan desain produksi yang akan terbagi dalam berbagai kriteria yang disesuaikan dengan tujuan dan target pemirsa acara tersebut.
Askurifai Baksin menegaskan, Kemajuan dan keragaman program acara televisi memang menjadi hal urgen di negara kita. Program acara yang sudah ada harus dikembangkan secara baik agar televisi yang kini hampir dimiliki oleh seluruh masyaraat Indonesia tidak hanya menjadi sarana hiburan, tapi juga sarana pendidikan dan penegakan moral. Program acara televisi hendaknya tidak kebablasan, tidak menimbulkan kesan menjijikan dan nyinyir. Program acara di stasiun tv seharusnya menjadi tontonan cerdas dan artistik, baik secara materi maupun tampilan.
Kini tidak boleh saling meniru antar program mata acara televisi. Melihat program acara berita misalnya. Askurifai menilai, Kesamaan materi (isi) dalam paket berita reguler. Cenderung bermuatan spot news (berita sekilas). Penulis melihat hal baru dalam gebrakan Ishadi S.K. Namun berani tampil beda adalah Trans TV dengan format berita yang Indept News (Laporan mendalam) dalam tayangan berita Reportase Invetigasi. Titik berat tayangan berita ini adalah menyangkut kerugian yang diderita masyarakat banyak. Atau hal-hal yang langsung membuat masyarakat dirugikan sebagai konsumen, misalnya.
Lebih parahnya, Infotainment acara ini menurut Askurifai tidak ada perbedaan satu yang lainnya, di setiap stasiun televisi. Bahkan Veven Sp Wardana pemerhati pertelevisian, mengistilahkan Infotainment di Televisi kita, salah penafsiran. Infotainment dalam arti Informasi dalam dunia hiburan, kini menjadi menjadi sempit. Informasi pada orang-orang yang berada di dalamnya yang lebih pada ekploitasi individu artisnya, seperti masalah pribadi. Artis ditafsirkan berbeda, sebagai selebritis. Seseorang yang masuk televisi lewat Infotainment bisa dikategorikan sebagai selebritis. Sayang kiprahnya di dunia peran atau pentas di dunia seni tidak ada atau prestasinya nihil.
Begitu pula tentang fenomena film-film dari jelajah Hindustan, Mandarin, dan telenovela Amerika latin. Serentak hampir semua televisi menayangkan. Namun di era kebangkitan film nasional tidak dipungiri film yang sukses di bioskop segera di tayangkan televisi. Tidak lebih dari satu tahun. Kebangkitan perfilman nasional bersinergi dengan keberanian televisi nasional menayangkan film-film karya sineas muda. Tidak hanya film Dono, Kasino, Indro dalam Warkop yang biasa menghiasi televisi kita lagi. Akting si’geulis Dian Sastrowardoyo yang biasa kita harus membayarnya di layar perak jaringan bioskop 21. Kini menghampiri sendiri ke ruang pribadi, rumah-rumah di perkotaan maupun di pelosok nan jauh di sana.
Kuis, Famili 100 pernah fenomenal dan berganti stasiun televisi. Mulai Antv, lanjut ke Indosiar terakhir TV 7. Kuis itu dapat mencapai rating tinggi sekali. Kini mulai kembali kuis yang lebih pada pendekatan pada pelengkap program acara, di sela pertandingan langsung sepak bola, misalnya. Terakhir yang perlu dicermati program mata acara reality show. Indonesian Idol, Mamamia, KDI, hingga Akademi Fantasi Indosiar. Format acaranya sepintas sama, namun pengemasan dan kreativitas sedikit berbeda. Untuk hak pembelian merek Indonesia Idol. RCTI melalui Frementle Media (Production House, besar bersekala Internasional) harus mengeluarkan kocek puluhan milyar, untuk sebuah merek tayangan gabungan Reality Show dan Variety Show.

Format Acara Televisi
Format acara Televisi adalah sebuah perencanaan dasar dari suatu konsep acara televisi yang akan menjadi landasan kreativitas dan desain produksi yang akan terbagi dalam berbagai kriteria yang disesuaikan dengan tujuan dan target pemirsa acara tersebut
Perbedaan antara program acara News dan Art. JB. Wahyudi dalam Askurfiai Baksin membagi menjadi dua bagian perbedaan mendasar antara Karya Artistik dan Jurnalistik.

Karya Artistik
1. Sumber : ide /gagasan
2. Mengutamakan keindahan
3. Isi pesan bisa fiksi maupun nonfiksi
4. Penyajian tidak terikat waktu
5. Sasaran : kepuasan pemirsa
6. Memenuhi rasa kagum
7. Improvisasi tidak terbatas
8. Isi pesan terikat pada kode moral
9. Mengutamakan bahasa bebas (dramatis)
10. Refleksi daya khayal kuat
11. Isi pesan tentang realitas sosial
Karya Jurnalistik
1. sumber : permasalahan hangat
2. Mengutamakan kecepatan/aktualitas
3. Isi pesan harus aktual
4. Penyajiann terikat waktu
5. Sasaran : kepercayaan & kepuasan pemirsa
6. Memenuhi rasa ingin tahu
7. Improvisasi terbatas
8. Isi pesan terikat pada kode etik
9. Menggunakan bahasa jurnalistik
(ekonomi kata dan bahasa)
10. Refleksi penyajian kuat
11.Isi pesan menyerap realitas/faktual.

Sumber Buku ; Jurnalistik Televisi, teknik memburu dan Menulis Berita, Drs. Arifin S. Harahap. Indeks 2006. Jurnalistik Televisi Teori dan Praktik, Askurifai Baksin, Sembiosa Rekatama. Mari Membaut Film. Heru Effendy. 2002, Panduan.
Diposting oleh yoki di 15:03 0 komentar
PRODUKSI SIARAN TELEVISI KE – 1 & 2

PRODUKSI SIARAN TELEVISI
Pertemuan ke – 1 & 2

Pengertian Komunikasi Massa

Komunikasi massa (mass communication) adalah komunikasi yang menggunakan media massa, baik cetak (surat kabar, majalah) atau elektronik (radio, televisi), yang dikelola oleh suatu lembaga atau orang yang dilembagakan, yang ditujukan kepada sejumlah besar orang yang tersebar di banyak tempat, anonym dengan heterogen. Pesan-pesannya bersifat umum, disampaikan secara cepat, serentak dan sepintas (khususnya media elektronik). Komunikasi antarpribadi, komunikasi kelompok dan komunikasi organisasi berlangsung juga dalam proses untuk mempersiapkan pesan yang disampaikan media massa ini (Abdurachman, Oemi, MA.,2001, dasar-dasar Public Relations. Cetakan Keduabelas. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, hal. 75.

Bentuk komunikasi yang menggunakan sarana-sarana teknik yang mampu menyampaikan pesan kepada suatu khalayak yang besar dalam waktu relative singkat atau bahkan secara langsung. Ciri utamanya, penyampaian pesan atau gagasan itu dilakukan orang yang bekerja pada media massa. (Mulyana Dedy, 2004. Ilmu Komunikasi. Cetakan pertama. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya hal 75.

Komunikasi melalui media massa modern, yang meliputi surat kabar yang mempunyai sirkulasi yang luas, siaran radio dan televisi yang ditujukan kepada umum, dan film yang dipertunjukan di gedung bioskop. Komunikasi massa menyiarkan informasi, gagasan, dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak dengan menggunakan media. Komunikasi massa bersifat umum, karena pesan komunikasi yang disampaikan melalui media massa adalah terbuka untuk semua orang. Benda-benda tercetak, film, radio dan televisi apabila dipergunakan untuk keperluan pribadi dalam lingkungan organisasi yang tertutup, tidak dapat dikatakan komunikasi massa.

Massa dalam komunikasi massa terjadi dari orang-orang yang heterogen yang meliputi penduduk yang bertempat tinggal dalam kondisi yang sangat berbeda, dengan kebudayaan yang beragam, berasal dari berbagai lapisan masyarakat, mempunyai pekerjaan yang berjenis-jenis ; maka oleh karena itu mereka berbeda pula dalam kepentingan, standar hidup dan derajat kehormatan, kekuasaan dan pengaruh. Dalam komunikasi massa, hubungan antara komunikator dan komunikan bersifat non-pribadi, karena komunikan yang anonym dicapai oleh orang-orang yang dikenal hanya dalam peranannya yang bersifat umum sebagai komunikator. Effendy, Onong Uchjana. Ilmu, Teori dan Filsafat komunikasi. PT. Citra Aditya Bakti. Bandung ; 2000 televisi dan film. Suatu proses komunikasi yang bercirikan sumber-sumber yang sedikit, penerima yang banyak, dan peluang umpan balik yang terbatas.(Muis, A 1999. Jurnalistik, hokum, dan Komunikasi Massa : Menjangau Era Cybercommunication Milenium etiga. Jakarta : PT. Dharau Anuttama, hal. 245.

Komunikasi massa adalah pernyataan manusia yang ditujuan kepada massa. Atau sebagian yang dikatakan oleh Franklin Fearing : a mass communication is any communication producate at a single source which is capable of being transmitted to an infinitely large audience. Bentuk-bentuk komunikasi massa ini dapat diperinci a.l :

Jurnalistik
Public Relation
Penerangan
Propaganda
Agitasi
Advertising
Public Speaking
Publicity
Pertunjukan
Komunikasi Internasional

Palapah, M.O. Drs., dan Syamsudin, Atang, Drs., 1983. Studi Ilmu Komunikasi. Bandung : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, hal. 09.

Pengertian Televisi

Dalam bahasa Inggrisnya Televisi ini disebut dengan : Televison. Istilah “Television” berasal dari perkataan Yunani : Tele artinya : far, off, jauh. Ditambah dengan : Vision yang berasal dari bahasa Latin vision, yang artinya to see, melihat. Jadi artinya secara harfiah, melihat jauh. Ini sesuai dengan existensi dari pada siaran TV dari Jakarta, kita bisa lihat di rumah kita di Bandung. (Palapah, M.O. Drs., Syamsudin, Atang, Drs., 1983. Studi ilmu Komunikasi. Bandung : Fakultas Ilnu komunikasi Universitas Padjajaran, hal. 83.)

Media komunikasi jarak jauh dengan penayangan gambar dan pendengaran suara, baik melalui kawat maupun secara elektronmagnetik tanpa kawat. (Berasal dari bahasa Yunani “tele” yang berarti jauh dan “vision” yang berarti penglihatan).

Sejarah Televisi di Indonesia

Tahun 1962 tonggak pertelevisian nasional Indonesia dengan beroperasinya TVRI. Pada perkembangannya TVRI menjadi alat strategis pemerintahan dalam banyak kegiatan, mulai dari kegiaan sosial hingga kegiatan-kegiatan politik. Selama beberapa dekade TVRI memegang monopoli penyiaran di Indonesia, dan menjadi “corong” pemerintah. (Dalam, Menanggung jawab sosial Televisi, penulis Ruspadia Saktiyanti Jahja dan Muhamad Irvan, diterbitkan Ford Foundation, Januari 2006)

Televisi merupakan media temuan orang-orang Eropa. Perkembangan pertelevisian di dunia ini sejalan dengan kemajuan teknologi eletronika, yang bergerak pesat sejak ditemukannya transistor oleh William Sockley dan kawan-kawan pada tahun 1946.
Transistor yang dibuat dari pasir silicon yang banyak terdapat di lembah silicon di California Amerika Serikat ini merupakan benda sebesar pasir yang berfungsi sebagai penghantar listrik bebas hambatan. Transistor ini sanggup menggantikan fungsi tabung (vaccum tube) yang diciptakan oleh Lee de Forest pada tahun 1912.

Tahun 1923 Vladimir Katajev Zworykin berhasil menciptaan televisi elektris. Dan tahun 1930 Philio T. Farnswort menciptakan televisi. Perkembangannya pada tahun 1939 Paul Nipkow melahirkan televisi mekanik. Hal ini dibuktikan saat New York World’s Fair. Dipamerkan televisi berukuran 8 x 10 inci. Dai sinilah akhirnya berkembang pesawat televisi yang kita kenal sekarang. Sementara untuk pertamakalinya gambar televisi terlihat tahun 1920 di Amerika Serikat.

Generasi Televisi

Televisi mengenal tiga warna utama. Red (Merah), Green ( Hijau) dan Blue (Biru). RGB, inilah selanjutnya masing-masing diubah menjadi sinyal gambar proyeksi yang juga akan menghasilkan gambar proyeksi berwarna di layar televisi.

Sistem Televisi

1. Phase Alternating Line (PAL) : 625 garis /perdetik – 60 Herz.
2. National Television System Commites (NTSC) : 525 garis / detik 50 Herz.
3. Sequential Colour a ‘Memoar (SECAM) : 825 garis/detik – 50 Herz.

Generasi selanjutnya, terakhir yang ditemukan adalah High Devinition TV (HDTV) generasi ketiga inilah yang menjamin tontonan sempurna. HDTV bisa disebut sebagai televisi generasi akan datang. HDTV (Hi- Vision) mempunyai ukuran rasio layar 16 : 9. dengan demikian ukuran layar lebih besar dibandingkan pesawat televisi generasi kedua. HDTV mulai digunakan dan dikembangkan di Jepang, Eropa dan Amerika Serikat.

Siaran Pertama Televisi di Indonesia

Televisi melalui TVRI, sejak ada di Indonesia 23 Agustus 1962 tepatnya saat pagelaran Asian Games IV. Sebuah karya fenomenal Bung Karno pendiri bangsa ini, dalam pemanfaatan teknologi tinggi.

Munculnya Televisi Swasta Nasional

Askurifai Baksin, praktisi Jurnalistik sekaligus pakar komunikasi dari Universitas Islam Bandung, membagi empat tahapan Pembaruan Pertelevisian di Indonesia.

Era Pertelevisan Pertama di Indonesia

Ada empat tahapan perkembangan pertelevisian di Indonesia, di awali dengan munculnya stasiun TVRI, melalui deregulasi Departemen Penerangan republik Indonesia. Tepatnya tanggal 3 Mei 1971. Dalam era ini televisi dipahami sebagai siaran-siaran dalam bentuk suara dan gambar yang dapat ditangkap (dilihat dan didengarkan) oleh umum, baik dengan sistem pemancaran lewat gelombang-gelombang elektromagnetik maupun lewat kabel-kabel. (television cable). Wewenang untuk menyelenggarakan siaran televisi hanya ada pada pemerintah, dalam hal ini Deppen, c.q. Direktorat Televisi/Televisi Republik Indonesia.

Era Pembaruan Tahap Dua

Penyiaran pertelevisian di Indonesia menelorkan lima hal baru, yaitu siaran relai, antena parabola, sistem distribusi, dan closed circuit. Siaran televisi adalah siaran-siaran dalam bentuk gambar dan suara yang ditangkap langsung untuk dilihat dan didengar oleh umum. Baik melalui pemancaran gelombang radio dan atau kabel maupun serat optic. Sedangkan stasiun relay, stasiun yang meneruskan siaran televisi dari stasiun pemancar ke arah sasaran yang dituju. Antena parabola adalah perangkat telekomunikasi bukan milik TVRI atau penyelenggara telekomunikasi untuk umum yang digunakan hanya untuk menerima siaran televisi yang dipancarakan melalui satelit. Sistem distribusi adalah sistem untuk menyebarluaskan siaran televisi dengan menggunakan stasiun pemancar ulang dan atau kabel maupun serat optic. Sistem closed circuit adalah system penyiaran melalui kabel dan atau serat optik untuk khalayak terbatas dalam bangunan atau lingkungan tertentu, baik yang diterima dari acara televisi setempat dan atau melalui satelit maupun yang dihasilkan dengan pemutaran kembali rekaman video atau film.

Era Pembaharuan Tahap Tiga

Munculnya RCTI, Rajawali Citra Televisi Indonesia yang mulai bersiaran pada 22 Pebruari 1988 – 24 Juli 1990. RCTI sebagai pelaksana Siaran Saluran Terbatas (SST). Untuk cakupan wilayah Jakarta dan sekitarnya. Siaran Saluran Terbatas, harus menyertakan alat tambahan untuk dapat menyaksikan tayangan RCTI.

Era Pembaharuan Tahap Empat

Lahirnya SCTV, TPI, ANTV, dan Indosiar . tanggal 24 Juli 1990 muncul keputusan Menteri penerangan, yang isinya antara lain membuka kesempatan pihak swasta untuk melaksanakan siaran televisi di Indonesia. 1 Agustus 1990 di Surabaya lahirlah Surya Citra Televisi (SCTV). Mulai era ini penerima tayangan TV swasta tidak lagi membutuhkan decoder/boster pada antena penerima siaran televisi. SCTV yang bersiaran local pada 1990 – 1993 mencakup Surabaya dan sekitarnya, termasuk Denpasar – Bali, pada 30 Januari 1993 SCTV diperbolehkan siaran secara nasional, namun harus berkedudukan di Ibukota Jakarta.

Menyusul Televisi Pendidikan Indonesia – TPI, Berdasarkan perjanjian kerjasama antara TPI dan Yayasan TVRI. 30 Januari 1993 hadir ANTV. PT. Cakrawala Andalas Televisi berkedudukan di Jakarta. Sebelumnya ANTV adalah gabungan dari PT. Cakrawala Andalas Televisi Bandar Lampung dan PT. Cakrawala Bumi Sriwijaya Televisi Palembang.

Menyusul PT. Indosiar Visual Mandiri, pada 18 Juni 1992. Televisi di Indonesia pada masa itu didasari pertama, penyiaran televisi di Indonesia sebagai media komunikasi massa elektronik yang diyakini mempunyai kemampuan tinggi dalam menyebarluaskan informasi guna menunjang percepatan usaha pembangunan bangsa dan Negara. Kedua, sebaliknya tingkat keberhasilan pembangunan bangsa dan Negara dewasa ini telah mendorong pula pesatnya perkembangan penyiaran televisi. Ketiga, pesatnya perkembangan televisi ini harus dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kepentingan nusa bangsa, dan Negara dengan menghindarkan kemungkinan timbulnya dampak-dampak negative di bidang ideology, politik, ekonomi, sosial-budaya, pertahanan, dan bidang teknologi penyiaran televisi itu sendiri.

Setelah era Reformasi bergilir, pemerintahan Soeharto jatuh. Habibie naik takhta, era inilah banyaknya deregulasi di bidang pengelolaan informasi dan komunikasi. Dilanjutkan era pemerintahan Gusdur. Departemen penerangan dibubarkan. Berdirilah stasiun televisi swasta nasional yang berkedudukan di Jakarta. a.l Metro TV lahir pada Juli 2000 diresmikan oleh Presiden R.I ketika itu Abdurahman Wahid. Selanjutnya Trans TV, Lativi, Global TV, dan TV – Tujuh.

Televisi Kabel/Berlangganan

Astro TV, stasiun televisi berlangganan yang berpusat di Malaysia.
Penyiaran melalui satelit. Pesawat penerima dilengkapi decoder penerima. Dengan system sewa dan pembayaran bulanan (berlangganan). Astro pun membuat program acara sendiri seperti berita, sport, dokumenter.
Indovision sebelumnya telah hadir denga menghadirkan tontonan kelas dunia, a.l ESPN, CNN, HBO, dll. Kini jaringan Telkom pun mempunyai jaringan Telkom Vision.

Televisi Lokal,

Amanat undang-undang penyiaran Nomor 32 tahun 2002 pada Bagian Keempat tentang LemBaga Penyiaran Publik, Pasal 14 ayat (3) Di daerah provinsi, kabupaten, atau kota dapat didirikan Lembaga Penyiran Publik local. Di awalai di Jawa Pos TV (JTV) Surabaya Jawa Timur, Bali TV lalu Riau Tv, TV Manado. Yang terakhir gulung tikar. Namun perkembangan TV lokal di daerah semkin meningkat bak jamur di musim hujan. Di Banten Propinsi yang baru seumur jagung telah bersiaran, Cahaya TV Banten di Tangerang dan Banten TV di Serang. Menyusul Carita TV, Bayah TV dan Pandeglang Televisi.

Televisi Komunitas

Sedangkan untuk penyiaran komunitas. Dalam pasal 21 diatur bahwa, Lembaga Penyiaran Komunitas adalah lembaga penyiaran yang berbentuk badan hukum Indonesia, didirikan oleh komunitas tertentu, bersifat indefendent, dan tidak komersial, dengan daya pancar rendah, luas jangkauan wilayahnya terbatas, serta untuk melayani kepentingan komunitasnya.
Komunitas kampus ITB Bandung, bisa menikmati tayangan Ganeca TV dilingkungan kampusnya. Di Universtas Brawijaya Malang dengan santai bisa dinikmati berita dilingkungan kampus, yang diproduksi mahasiswa Broadcasting. Di PT. Freeport – Timika Papua, terdapat stasiun televisi yang berguna sebagai sarana komunikasi dilingkungan para pekerja tambang emas tersebut. Rencananay pada tahun 2007 ini I kampus UNTIRTA, Jurusan Jurnalistik FISIP UNTIRTA, akan Me- relaunching TV Kampus pertama di Banten, TV KOM-UNTIRTA.

Disarikan dari Buku Jurnalistik Televisi, Teori dan Prkatik, penuls Askurifai Baksin penerbit, Simbiosa Rekatama Media, 2006. Jurnaistik Mutakhir, Morisan Ghalian Indonesia 2004.


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: